Dalam
tarikan antara tradisi dan modernitas melalui pendekatan fenomologi dengan
menggunakan teori modernisasi dan fungsional. Hal tersebut berdasarasumsi bahwa
setiap unsur budaya tidak akan pernah terbebas dari perubahanyang disebaban
oleh arus modernisasi.
Di
mana salah satu teori yang muncul dalam menjawab perubahan social masyaraat
menuju modern adalah teori modernisasi,makna modernitas mengacu pada
transformasi sosial, politik, ekonomi, cultural, dan mental yang terjadi di
Barat sejak abad ke-16 dan mencapai puncaknya pada abad 19 dan 20. 9 Dari sudut pandang ini perkembangan masyarakat
terjadi melalui proses peralihan dari masyarakat tradisional ke masyarakat
modern.Dalam teori modernisasi klasik masih berasumsi bahwa negara Dunia ketiga
merupakan negara terbelakang dengan masyarakat tradisionalnya.
Sementara
negara-negara Barat (Eropa dan Amerika Serikat) dilihat sebagainegara modern,
sehingga gejala dan kondisi yang terjadi dalam masyarakat diukur menurut
pandangan Barat dalam menentukan tingkat modernitas. Tidak salah jika Gramsci
mengatakan telah terjadi hegemoni budaya terhadap negara Dunia ketiga.
Masyarakat kemudian lebih banyak mengadaptasi nilai-nilai gaya hidup Barat
sebagai identitas modern, kecenderungan ini dilihat sebagai westernisasi.Paling
tidak pengertian umum tentang modernisasi adalah proses sejarah pada
transformasi perubahan besar-besaran dari pertanian tradisional ke masyarakat
industri modern sejak masa revolusi industri abad XVIII. Proses modernisasi
berlangsung revolusioner, kompleks, sistematik, global, jangka panjang dan
progresiv, sehingga akan menghasilkan kristalisasi dan difusi modernitas
klasik.
Teori
ini memandang bahwa perubahan bergerak secara linear dari masyarakat primitif
menuju masyarakat maju. Sedangkan teori fungsionalisme memandang bahwa
masyarakat sebagai sebuah sistem selalu berada dalam keseimbangan dinamis.
Perubahan yang terjadi dalam unsur sistem itu akan diikuti oleh unsur sistem
lainnya dan membentuk keseimbangan baru. Perubahan sosial dalam pandangan
modernisasi klasik, menitikberatkan kemajuan masyarakat modern terbentuk
melalui suatu proses yang sama. Aliran baru teori modernisasi tersebut
mengandung pemikiran bahwa nilai tradisional dapat berubah oleh karena dalam
dirinya mengalami proses perubahan yang digerakkan oleh perkembangan berbagai
faktor kondisi setempat misalnya, faktor pertumbuhan penduduk, teknik, dan apresiasi
nilai budaya.
1.
Antara tradisi dan modernitas
Sintren
sebagai suatu seni adalah salah satu dari bagian kebudayaan yang terkena imbas
arus modernitas, yang tidak tersaring secara ketat menyebabkan proses
akulturasi budaya berjalan lancar. Bentuk-bentuk modernitas, misalnya
tempat-tempat hiburan yang bersifat modern antara lain: bioskop, café, karaoke,
mall, dan sebagainya menggusur keberadaan kesenian sebagai alternativ hiburan
Piotr Sztomka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenada, 2008), hlm.
149 yang mengandung unsur-unsur
pendidikan dan pencerahan, khususnya kesenian tradisional.
Modernitas
dalam bentuk teknologi hiburan, besar pengaruhnya terhadap kesenian
tradisional. Kesenian tradisional membutuhkan proses yang lama dalam memahami
dan menampilkan, berbeda dengan teknologi hiburan modern yang bersifat instant.
Di sinilah akan terjadi cultural lag dalam kebudayaan berkaitan dengan
keberadaan kesenian tradisional. Menurut Koentjaraningrat, bahwa cultural lag
adalah perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu
masyarakat. Artinya ketinggalan kebudayaan, yaitu selang waktu antara saat
benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu diterima secara umum
sampai masyarakat dapat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut.
Dalam
kasus ini, benda yang dimaksud di atas dapat diterapkan sebagai kesenian
tradisional. Suatu culture lag terjadi apabila irama perubahan dari dua unsur
perubahan (mungkin lebih) memiliki korelasi yang tidak sebanding sehingga unsur
yang satu tertinggal oleh unsur lainnya. Dari fakta tersebut menjadikan
kesenian tradisional sebagai bentuk yang ketinggalan zaman. Salah satu bentuk
kesenian tradisional yang kentara terkena imbasnya adalah kesenian tradisional
Sintren. Para pekerja seni Sintren sebagai aset sumber daya manusia harus
berjuang melawan modernitas, sebagai kaum minoritas yang menyampaikan
nilai-nilai egalitarian dalam pementasannya, mereka telah ikut andil dengan
caranya dalam pelaksanaan mengisi pembangunan, baik fisik maupun non fisik/sosial
demi kelangsungan hidup para seniman Sintren tersebut.
Dalam
pertunjukan Sintren para penonton yang datang bukan hanya dari desa setempat
saja. Dari luar desapun banyak yang berdatangan untuk sekadar menonton ataupun
menginginkan romantisme lama atau ada juga yang menghendaki supaya budaya
setempat langgeng sampai anak cucu.Dalam perspektif lain sebenarnya kehadiran
Sintren justru dapat menjadi alternatif bagi pelaku seni sintren maupun
masyarakat yang terlibat di dalam pertunjukan kesenian tersebut, untuk
pemberdayaan ekonomi mikro, ditengah himpitan modernitas dan globalisasi yang
secara masif menghimpit rakyat kecil, pementasan sintren menjadi sesuatu yang
mendatangkan manfaat secara ekonomi. Dibalik kesederhanaan, keikhlasan,
kepolosan, seorang gadis penari sintren ternyata sedikit banyak mampu
mendongkrak susana sepi menjadi keramaian penuh optimis penduduk suatu desa. Di
mana sebagian penduduk dapat memberdayakan eonomi skala mikro melalui usaha
dagang seperti; krupuk sambal, tahu aci, mainan anak-anak, pecel, serundeng
lumping kerbau dan lainlain, yang dilakukan dengan selalu mengikuti pertunjukan
keliling sintren dari satu desa ke desa lain.
2.
Keberdayaan kesenian tari Sintren
Opini
masyarakat Pemalang terhadap kesenian Sintren sedikitnya ada tiga kategori yang
mewakili berbagai aliran opini yang berkembang di masyarakat. Pertama, kelompok
masyarakat yang secara tegas (tanpa kompromi) menolak eksistensi kesenian
Sintren karena berasumsi bahwa kesenian Sintren tidak sejalan dengan nalar keagamaan
(penuh nuansa mistis). Kedua, kelompok yang mengakui eksistensi kesenian
Sintren dan berusaha melestarikannya. Kelompok ini terwakili oleh para seniman
dan pemerhati seni etnik. Ketiga, kelompok yang masa bodoh dan tidak ambil
pusing tentang Sintren dan masa depannya nanti.
Faktor
yang membuat kesenian Sintren kehilangan pamornya antara lain karena masyarakat
sendiri yang sudah tidak peduli pada kesenian Sintren. Mereka beranggapan,
pementasan kesenian Sintren sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.
Selain itu juga tidak adanya wadah (sanggar) tempat bertemu sesame anggota dan
para pemerhati seni tradisional. Lemahnya manajemen grup Sintren, ditengarai
juga ikut memengaruhi citra kesenian Sintren. Dahulu, kesenian Sintren hanya
dikelola secara musiman dan baru bergerak jika ada undangan pentas ataupun
festival namun kini pertunjukan Sintren dilakukan secara berkeliling dari satu
tempat ke tempat lain.
Dalam
pandangan masyarakat pelaku seni tradisional. Menghidupkan kesenian Sintren
seakan tidak lebih dari sebuah "pengabdian" untuk melestarikan budaya
warisan nenek moyang, atau hanya sekedar ingin mempertahankan nilainilai
kearifan yang tersimpan di dalamnya, sebagaimana yang dilakukan oleh anggota
Paguyuban Sintren Slamet Rahayu dusun Sirau Kelurahan Paduraksa. Jadi,
mempertahankan nilai-nilai seni budaya itulah agaknya yang dijadikan
pertimbangan. Memutuskan menjadi penari Sintren barangkali merupakan sebuah
keberanian dan secara moral patut dihargai sebagai bentuk ketulusan menjaga
nilai-nilai kesucian. Dalam prosesi pementasan Sintren ada semacam persyaratan
khusus, si penari harus benar-benar masih perawan (suci) lahir batin, dalam
arti secara fisik masih gadis (perawan) dan secara psikologis belum terhegemoni
oleh pengaruh modernitas (masih lugu). Karena itu umumnya penari sintren
berasal dari kalangan gadis cilik usia sekolah setingkat kelas 5 atau 6 Sekolah
Dasar. Syarat lainnya hanya berkaitan dengan teknis, tentunya harus bisa
menari. Kini Sintren di Pemalang sebagai sebuah tradisi disebabkan tekanan
modernitas hampir menjadi sepenggal kenangan sejarah. Meski masih ada pihak
yang berusaha melestarikannya, terbukti di salah satu desa masih terdapat group
Sintren yang tampil secara keliling. Sebagaimana paguyuban seni Sintren Slamet
Rahayu di dusun Sirau Kelurahan Paduraksa Kecamatan Pemalang.
Sumber
:

0 Komentar