Pada
saat itu, legenda sintren Mataram
diperintah oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Sultan Agung memiliki beberapa
senapati yang mumpuni, salah satunya adalah Ki Bahureksa. Ki Bahureksa mendapat kedudukan di sepanjang pantai utara Jawa, dari Kendal
hingga Pemalang. Kesetiaanya ia buktikan
dengan mengusir Belanda dari tanah Jawa.
Dalam perjalanannya ke daerah utara,
ia juga membuka hutan-hutan yang ia lewati untuk dijadikan pemukiman warga
Mataram. Hutan-hutan pada saat itu
terkenal angker. Hutan yang luas tadi
tidak hanya dihuni binatang buas tapi juga lelembut. Pohon-pohon besar banyak tumbuh di hutan
itu. Tapi dengan kesaktianya Ki
Bahureksa berhasil membuka hutan tersebut.
Pada
suatu hari seorang pemuda bernama Jaka Bahu yang sedang berada dalam perjalanan
bertemu dengan gadis cantik yang sedang bertapa. Dari sosoknya gadis itu seperti bukan manusia
biasa karena apa yang dilakukannya
seperti yang biasa dilakukan oleh pendeta. Pertemuan itu membuat Jaka Bahu tertarik
dengan gadis itu. Sebenarnya, Jaka Bahu
tak lain adalah sang Senapati Bahureksa
Ki
Bahureksa sangat tersohor di Pemalang.
Karena tersohornya, banyak wanita yang jatuh hati padanya. Dari sekian banyak wanita yang datang, Ki
Bahureksa memilih Rara Rantamsari,
seorang putri yang cantik.
Sebenarnya ia adalah pendeta yang pernah ia temui saat bertapa di
hutan. Ketika itu ia sedang dalam
perjalanan saat diutus Sultan Agung ke
Batavia. Tidak hanya di utus untuk
mengusir Belanda, tapi ia juga ditugasi mencari wanita cantik untuk rajanya
Jaka
Bahu yang sudah terbakar api asmara tidak dapat melakukan tugasnya. Wanita itu
tidak sedikitpun tertarik dengan Sultan Agung.
Ternyata wanita itu mencintai Jaka Bahu.
Dari
rasa cinta itu lahirlah R. Sulandono.
Anak dari Jaka Bahu dan Rantamsari itu tampan dan gagah perkasa. Ia senang mengembara. Ketika di hutan, R. Sulandono berkelahi
dengan raksasa, ia menang tapi tanganya terluka terkena cakaran kuku sang
raksasa.
Suatu
hari di desa Kisalah R. Sulandono bertemu gadis cantik seperti bidadari. Gadis
itu bernama Dewi Sulasih.
Tumbuhlah rasa cinta
Sulandono. Ternyata ia pun juga
mencintai Sulandono. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengarungi hidup berdua
selamanya.
Dewi
Sulasih diboyong ke kadipaten. Mereka
berniat untuk meminta doa restu kepada ayah Sulandono. Tetapi, Ki Bahureksa tidak memberikan restu.
Walaupun sulit akhirnya Sulandono berpisah dengan Sulasih.
Di
lain pihak, sang ibu merestui. Sulandono
disuruh untuk bertapa dan diberi sapu tangan yang akan menjadi perantara
pertemuan Sulasih dan Sulandono.
Sedangkan Dewi Sulasih disuruh menjadi penari di setiap acara bersih
desa. Dari situlah keduanya dapat
bertemu.
Ketika
tanggal lima belas bulan purnama, acara
bersih desa di adakan. Dewi Sulasih
menari dan akan kerasukan roh halus.
Sedangkan sapu tangan R. Sulandono dijadikan obatnya. Pada saat itu juga Sulandono dipanggil oleh
ibunnya. Tapi yang dipanggil hanyalah
rohnya. Begitu juga dengan Sulasih. Jadi
sebenarnya yang menari bukan Sulasih tapi badan Sulasih yang kerasukan
lelembut.
Sulasih
dapat bertemu dengan Sulandono tapi ada syarat yang tidak boleh
ditinggalkan. Syaratnya yaitu Sulandono
harus membawa sapu tangan pemberian ibunya karena sapu tangan itu adalah jalan
untuk bisa kembali ke alam manusia. Jadi setiap tanggal lima belas, Sulandono tidak pernah lupa membawa sapu
tangannya agar bisa bertemu dengan Sulasih.
Suatu
hari ada bangsa jin yang mengganggu Sulandono karena semedi yang dilakukan
Sulandana dinilai mengganggu ketentraman mereka. Bangsa jin itu membuat sayembara. Barang siapa yang bisa menghentikan semedi
Sulandono, akan dijadikan raja jin di daerah itu.
Akhirnya
munculah Kala Regi. Ia tahu bahwa
Sulandono mempunyai pusaka berupa sapu tangan yang bisa melepaskan roh dari
tubuhnya dan menarik jin untuk mengisi tubuhnya. Kala Regi tahu bahwa sapu tangan itulah yang
menjadi perantara bertemunya Sulandono dengan Sulasih. Maka ia mencari cara agar Sulandono lupa
membawa sapu tangan itu ketika akan bertemu dengan Sulasih.
Tanggal
lima belas seperti biasa Sulasih akan bertemu dengan Sulandono. Tapi semedi
Sulandono diganggu oleh Kala Regi yang berusaha melepaskan sapu tangan dari
lengannya. Kala Regi berubah wujud
menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu itu hinggap
di kepala Sulandono dan berbisik bahwa
kalau ia ingin hidup bersama Sulasih, harus melepaskan sapu tangan dari
lenganya. Sulandono yang sangat
mencintai Sulasih goyah dari semedi. Ia
tidak ingin berpisah lagi dengan Sulasih.
Sulandono
yang sudah rindu kepada Sulasih perlahan-lahan melepaskan sapu tangan dari
lengannya. Kala Regi sangat senang.
Sudah
tiba saatnya. Seperti biasa Sulandono
bertemu dengan Sulasih. Tapi, tempat bertemunya tidak di alam manusia melainkan
di dunia gaib. Jasad yang ditinggalkan
tergeletak di tanah. Roh Sulandono dan
Sulasih tidak bisa kembali lagi ke jasadnya karena Sulandono telah ingkar
janji. Ia telah melepaskan sapu tangan
dari lenganya dan lupa tidak membawanya ketika bertemu dengan Sulasih. Padahal sapu tangan itu perantara kembalinya
roh ke dalam jasad yang ditinggalkannya.
Mereka berdua tidak dapat kembali ke alam manusia dan abadi di alam yang
lain.
Tarian
yang dilakukan Sulasih hingga sekarang masih
dilakukan. Sintren namanya. Orang yang menari sintren akan kerasukan roh
dari Sulasih. Bila ingin kembali seperti
semula, penari sintren harus dilempar dengan kabu.
Asal
muasal tarian Sintren ini berasal dari sebuah legenda percintaan Sulandono
dengan Sulasih. Namun kisah cinta mereka tidak mendapat restu dari Ki
Bahurekso, ayah dari Sulandono. Akhirnya, Sulandono bertapa dan Sulasih memilih
menjadi seorang penari dan mereka bertemu di alam gaib.
Bukan Indonesia jika tidak memiliki beragam
budaya warisan leluhur. Salah satunya yang harus dilestarikan adalah Tarian
Sintren. Pertunjukan tarian mistis yang berasal dari Cirebon konon melibatkan
roh bidadari saat dipertontonkan.
Dalam
pertunjukan Sintren sang penari harus dalam keadaan suci atau perawan. Jika
tidak maka roh sang bidadari tidak mau merasuki tubuh penari tersebut. Sebelum
penari menunjukkan aksinya, dia akan diikat menggunakan tali dan dimasukkan ke
dalam kurungan yang sempit dengan ditutup kain.
Kemudian
si pawang akan membacakan mantra sambil diiringi musik dan lagu Kembang Terate,
Gulung-Gulung Klasa, Turun Sintren, Simbar Pati, Kilar Blatar dan lainnya. Lagu
dan musik yang mengiringinya dipercaya dapat mendatangkan roh bidadari. Setelah
si pawang selesai membacakan mantra, kurungan dibuka dan ajaibnya si gadis
penari itu sudah berubah cantik dengan kostum penari menggunakan kacamata
hitam. Lantas si gadis pun menari dengan gemulainya.
Meskipun
tarian ini terkesan mistis, ada sebuah filosofis sintren Cirebon yang terkandung di dalamnya. Dalam kehidupan,
manusia lahir dalam keadaan suci dan bersih tanpa sehelai benang. Sementara
kurungan tersebut melambangkan dunia dan tali merupakan sebuah lambang ikatan
batin kepada Tuhan. Tarian ini biasa dipertontonkan jika ada acara budaya
tertentu.
Sumber
:
0 Komentar