A. Gerakan
Gerakan
tarian sintren memiliki nilai filosofis dari kecantikan seorang wanita.
Tariannya yang lemah gemulai merupakan dasar daripada sifat wanita yang anggun
dan lemah gemulai. Pada adegan sintren
yang terjatuh saat dilempari uang oleh penonton, merupakan simbol dari manusia yang terjatuh karena
terlalu mencintai duniawi. Kacamata hitam yang dipai sintren merupakan simbol
dari kegelapan seorang manusia apabila terlalu mencintai dunia. adegan sintren
yang diikat dan dimasukkan kedalam kurungan setelah beberapa waktu sintren yang
dimasukkan ke dalam kurungan dalam kondisi badan terikat tali sintren keluar
dari kurungan sudah berubah menjadi gadis cantik yang sudah tidak terbelenggu
adalah simbol manusia yang dimasukkan ke alam kubur. Sintren yang diikat adalah
simbol manusia yang terikat dengan pertanyaan-pertanyaan di alam Barzah.
Malaikat Munkar dan Nakir akan menyampaikan pertanyaan siapa Tuhanmu, siapa
nabimu, apa agamamu, siapa imammu, apa kitabmu dan siapa saudaramu. Bila satu
pertanyaan itu dapat dijawab dengan benar maka akan terlepas satu ikatan,
begitu juga seterusnya sampai tali ikatan akan terlepas semua dan mendapatkan
kebebasan hukuman di alam barzah. Dan
Kurungan dan Sintren, melambangkan badan jasmani dan rohani, yang pada waktunya
dengan ketentuan Allah akan ditinggalkan oleh badan rohani, seperti kurungan
ditinggalkan oleh pawang sintren.
B. Syair-syair Lagu
Syair-syair
lagu yang dibawakan oleh para pesinden dalam pertunjukan kesenian sintren
memiliki nilai-nilai filosofis diantaranya yaitu:
1. Mengandung syiar ajaran agama Islam
Seperti
yang terdapat pada lirik syair lagu berikut ini:
Wari
lais terapnang sandang ira Pawang
lais pasangkan pakaianmu
Dunung
alah dunung Majikan duh majikan
Si
Dununge bahu kiwa Majikannya
bahu kiri
Pangeran
kang lara tangis Tuhan yang
pengasih-penyayang
Wari lais adalah sintren yang melambangkan
manusia. Terapnang sandang ira melambangkan segala kehendak manusia. Dunung
atau majikan adalah Allah SWT yang wajib disembah. Si Dununge bahu kiwa
maksudnya adalah Tuhan tidak jauh dari kita, Tuhan selalu mengetahui segala apa
yang kita lakukan. Pangeran kang lara tangis memiliki makna bahwa Tuhan yang
Maha Pengasih dan Penyayang sebagai tempat kita mengabdi dan memohon segala
pertolongan.
Secara
sosiologis, agama berarti tradisi. Sebagai penuntun umat manusia, pada dasarnya
semua agama mengajarkan kebaikan, kedamaian, keselamatan. Lain pendapat dengan Durkheim yang menyatakan
bahwa agama adalah sistem yang menyatu mengenai berbagai kepercayaan dan
peribadatan yang berkaitan dengan benda-benda sakral. Agama merupakan sistem kepercayaan dan
peribadatan yang digunakan oleh berbagai bangsa dalam perjuangan mereka untuk
mengatasi persoalan-persoalan tertinggi dalam kehidupan manusia. Agama ialah suatu jenis sistem sosial yang
dibuat oleh penganut-penganutnya yang berporos pada kekuatan-kekuatan non
empiris yang dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan bagi
diri mereka dan masyarakat umumnya.
Agama dalam konteks sosial budaya masyarakat Jawa dipahami sebagai
sistem keyakinan dan ritual yang berbeda dengan tradisi pada umumnya, dimana
Islam mengislamkan budaya pribumi dan mensyiarkan nilai-nilai kebaikan yang
terdapat dalam Al-Qur’an.
Pada masa penyebaran ajaran agama
Islam, syair-syair lagu yang sebelumnya terdapat nilai animisme dan dinamisme
yang ada dalam pertunjukan kesenian sintren dirubah menjadi syair-syair islami.
Penyebaran ajaran agama Islam pada waktu itu mengalami banyak tantangan.
Penyebaran ajaran agama Islam melalui media kesenian merupakan salah satu cara
agar ajaran Islam mudah diterima oleh masyarakat pada saat itu mayoritas
menganut kepercayaan hindu budha. Dengan menyisipkan nilai-nilai ajaran agama
Islam, masyarakat dapat menerima dengan baik datangnya agama Islam dikalangan
masyarakat tersebut. Kesenian sintren pada masa penyebaran agama Islam memiliki
nilai-nilai falsafah ajaran Islam yang ingin disampaikan kepada para
masyarakat.
2. Semangat Perjuangan Kemerdekaan
Indonesia
Perkembangan sintren pada zaman penjajahan Belanda, Inggris dan Jepang
sampai pada zaman setelah Indonesia merdeka dapat dimaknai sebagai suatu
simbol. Pada zaman penjajahan Belanda, kesenian sintren tidak lepas dari
kekuasaan penjajah. Seperti yang terdapat pada lirik syair lagu berikut ini:
Duwit-duwit
gembring
Si…
numbak celeng
Keris
mlengkung. Tumbak mlengkung
Si..
ditilikung
Ciyet,
ciyet di….. dibebencet
Syair lagu diatas adalah lagu ciptaan Belanda
untuk menghina para pejuang, pahlawan pemberontakan penjajah, haya diubah
sedikit dari aslinya. Para penjajah menganggap pahlawan Indonesia hanya Duwit
gembring yang tidak bernilai dan tidak
berguna tidak mungkin akan mengalahkan penjajah dan sangat sedikit kemungkinan
untuk bisa merdeka dari para penjajah. Pada adegan sintren yang terbelenggu
oleh tali melambangkan kondisi bangsa Indonesia yang saat itu masih terbelenggu
dalam kungkungan penjajah. Dengan tangan terbelenggu gerak kita juga sangat
terbatas. Kacamata hitam yang dipakai oleh sintren sama halnya dengan bangsa
Indonesia yang tidak dapat melihat dan memilih jalan. Sintren yang terbelenggu
dengan tali dimasukkan ke dalam kurungan memiliki makna bahwa kalau kita dapat
terbebas dari belenggu para penjajah maka kita akan segera merdeka. Dengan
adanya pertunjukan sintren pada saat penjajahan, diharapkan para masyarakat
memiliki kesadaran untuk terbebas dari kungkungan para penjajah dan segera
mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia.
3. Masa Animisme dan Dinamisme
Sintren merupakan peninggalan nenek moyang
zaman animisme dan dinamisme. Animisme
berasal dari kata anima yang berarti ajaran atau doktrin tentang realitas jiwa. Menurut Tylor, animisme adalah perlambangan
dari suatu jiwa atau roh pada beberapa makhluk hidup dan objek bernyawa
lainya. Animisme merupakan kepercayaan
masyarakat terhadap roh-roh. Animisme terutama tersebar diantara golongan
penduduk yang hidup dari pertanian. Animisme mengisi kekosongan iman ketuhanan
dengan menghayalkan dewa-dewi dan roh pengantara. Sedangkan dinamisme berasal dari bahasa
Yunani yaitu Dunamos yang diingriskan menjadi Dynamic apabila diartikan kedalam
bahasa Indonesia memiliki arti kekuatan,
kekuasaan, khasiat atau daya. Dinamisme merupakan sejenis paham dan perasaan
keagamaan yang terdapat di berbagai bagian dunia, pada berjenis-jenis bangsa
yang menunjukan banyak persamaan-persamaan.
4. Masa Hindu Budha
Pertunjukan
sintren sangat berpengaruh pada masa Hindu Budha, seperti yang tercermin pada
lirik syair berikut ini:
Kembang
Jahe Laos Bunga jahe laos
Kecampur
kembang kemuning Kecampur bunga
kemuning
Arep
balik gage elos Mau pulang silahkan
pergi
Mengko
sore menea maning Nanti sore kesini lagi
Kata
balik dalam lirik syair diatas memiliki
arti mati atau meninggalkan dunia, sedangkan kata menea maning memiliki arti
kembali lagi, menitis kembali atau lahir kembali. Dalam keyakinan agama Hindu
budha dikenal istilah reinkarnasi.
C. Alat Musik yang digunakan
Alat
musik yang digunakan dalam pagelaran kesenian sintren memiliki nilai filosofis
yaitu:
1) Memiliki empat jenis waditra,
melambangkan iman, tauhid, mafirat dan islam.
2) Memiliki lima waditra yang terdiri dari
dua buah bumbung bambu, sebuah kendi, sebuah buyung dan sebuah kecrek,
melambang rukun Islam ada lima.
3) Nayaga, pembawa lagu, pemain dan
lain-lain berjumlah dua puluh, melambang dua puluh sifat wajib bagi Allah.
2. Inkulturasi Kesenian Sintren
Dalam
Penelitian ini, penulis mengacu pada teori filsafat kebudayaan J.W.M Bakker SJ,
karena teori ini memiliki kesamaan dengan yang akan penulis teliti, dimana
Inkulturasi dimaknai sebagai pembinaan kebudayaan melalui proses-proses asasi.
Inkulturasi diartikan sebagai latihan, berkat mana seorang individu
diintegrasikan kedalam kebudayaan sezaman dan setempat dan warisan kebudayaan tidak dipartisipasikan
sebagai beban, melainkan sebagai perkaya individu. Seperti halnya pertunjukan kesenian sintren
yang setiap waktu dapat dimaknai berbeda sesuai dengan konteks masyarakat yang
sedang terjadi pada saat itu. Misalnya saja pertunjukan kesenian sintren di
masa sebelum kemerdekaan memiliki pesan-pesan moral yang disampaikan yang
berbeda dengan pertunjukan kemerdekaan setelah kemerdekaan, pertunjukan
kesenian sintren terus mengalami perubahan seiring dengan berjalannya waktu
disesuaikan dengan kondisi soal yang sedang terjadi saat itu. baik dalam
penyajian pertunjukannya maupun pesan-pesan moral atau ajaran agama yang
disampaikannya selalu menghubungkan dengan kondisi sosial yang sedang terjadi
saat itu tanpa mengurangi sisi keindahan dari pertunjukan kesenian sintren
tersebut. Dalam perkembangannya, sintren mengalami perbedaan pemaknaan dari
zaman ke zaman. Pemaknaan atau pesan moral pertunjukan sintren di kondisikan
sesuai dengan yang sedang terjadi pada saat itu. Seperti halnya sintren yang
dipertunjukan pada masa animisme dinamisme akan mengalami perbedaan pemaknaan
pada saat zaman penyebaran agama Islam ataupun pada zaman penjajahan.
Menurut
A. Opan Safari, sintren adalah manusia yang terbelenggu oleh duniawi. Manusia
yang ingin terbebas oleh belenggu duniawi harus masuk ikatan tertentu bisa
melalui masuk ke dalam tarekat-tarekat atau atau jamiah dzikir tertentu untuk melakukan latihan-latihan spiritual
agar menjadi Insan Kamil. Insan Kamil Harus terbebas dari penghambaan kepada
selain Allah. Manusia yang sudah terbebas dari belenggu duniawi ia akan seperti
kupu-kupu yang sedang bermetamorfosis, unutk menjadi kupu-kupu yang indah harus
melewati fase-sase terlebih dahulu. Sama halnya
orang Islam yang sedang berpuasa di bulan Ramadhan, setelah satu bulan
penuh berpuasa maka akan diampuni dosa-dosanya sama halnya bayi yang baru
dilahirkan dengan keadaan suci, dengan busana baru dan dengan iman yang
terbaharui.
Pada
masa perjuangan khususnya perjuangan Pangeran Aria Pengenah Abu Hayat Surya
Kusuma tahun 1773-1777 berjuang menentang belanda. Sintren merupakan simbolisme
daripada para penjajah yang sedang terbelenggu yang sedang diikat. Dengan bekal
ilmu dan perjuangan keras para penjajah akhirnya terlepas dari ikatan dan
Indonesia menjadi bangsa yang merdeka.
Manusia harus membekali diri dengan ilmu dan dzikir kepada Allah. sintren gadis berbusana bidadari sama halnya
dengan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Dewasa ini, pemaknaan sintren
tidak disamakan lagi dengan cita-cita perjuangan bangsa Indonesia. Namun,
sintren dimaknai sebagai cita-cita yang ingin digapai manusia. Apabila manusia
ingin mencapai segala kehendaknya, maka manusia harus menjalani sistem-sistem
norma yang berlaku terlebih dahulu sebagai kontrol sosial atas segala
kehendaknya yang tidak baik, sehingga cita-cita yang diharapkan manusia bisa
tercapai dengan baik.
Sintren
di Cirebon berawal dari anak-anak pesisir yang menunggu kedatangan orang tuanya
yang sedang melaut dengan peralatan yang sederhana anak-anak memainkan kesenian
sintren. sintren disimbolkan seperti halnya manusia yang terbebas dari hawa
nafsu. Saat penonton melemparkan uang kepada sintren maka sintren akan terjatuh
sama halnya dengan manusia yang akan terjatuh ketika terlalu terlena dengan
kehidupan duniawi. Sintren adalah sindiran unutuk para pahlawan yang tertangkap
oleh penjajah. Dengan menggunakan kata Sapa sing lais mengandung arti bahwa
siapa yang sial tertangkap oleh Belanda.
Untuk memainkan pertunjukan sintren diperlukan latihan menari secara
rutin. Seorang pemain sintren harus menguasai lima tarian topeng terlebih
dahulu. Dengan keadaan tak sadarkan diri seorang dalang sintren menari dengan
gemulai.
Sumber :
Sc.syekhnurjati.ac.id
>risetmhs>artikel14123351244.

0 Komentar