pertunjukan seni tari sintren cirebon






Seni pertunjukan Sintren, sering juga disebut “Sinden Buyung”, pernah hidup dan Berjaya di pantura, pada hakikatnya mempertentangkan dua sisi realitas dalam posisi saling membelakangi. Realitas pertama adalah dunia keseharian sang pelaku Sintren itu sendiri yang pada umumnya terlahir dari keluarga miskin, yang berbeda dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat perkotaan yang sangat kontras. Kemiskinan itulah yang membuat ia selalu terjerat dalam ketidakberdayaan dirinya melepaskan kungkungan yang melilit keluarganya.
realitas kedua adalah ruang dan waktu suprainderawi yang diselami Sintren yang pada umumnya tampil sebagai penari Sintren.sekujur badan sebagaimana kerap dijumpai dalam atraksi sulap tingkat tinggi, setelah itu ia dimasukkan ke kurungan ayam.
Beberapa saat kemudian, Sang Pawang (Punduh) mulai melafalkan mantra-mantra gaib, hingga seolah-olah datanglah serombongan anak kecil menghampiri “Sang Sintren”. Mereka akan segera merasuki raga Sintren untuk kemudian dilenggak-lenggokkan serupa anak-anak kecil sungguhan bermain boneka.
Penonton bertepuk tangan dan bersorak sorai kegirangan menyaksikan Sintren yang tiba-tiba muncul dalam keadaan sudah berdandan ala penari,memancarkan aura kecantikan yang membuat mata para lelaki enggan berkedip, dengan pinggang langsing dan penuh pesona “Sang Sintren” meliuk-liuk, sampai tiba saatnya menagih saweran. Padahal, sesungguhnya, sang Sintren merasa tidak beranjak ke mana- mana, ia tetap duduk diam dalam kurungan, bahkan ikut pula menyaksikan lentik jemarinya berayun-berayun gemulai seiring irama bambu bumbung dan buyung gendang dan gamelan lainnya sudah dimodifikasi kebanyakannya.
Peristiwa metafisis tatkala menjadi Sintren inilah yang dapat disebut sebagai salah satu lubang "keserbamungkinan" hasil galian pementasan seni tradisional mistis yang anonim dalam membangun dan menawarkan realitas baru. Boleh jadi tidak ada pretensi pementasan itu untuk menonjolkan salah satu sisi dari dua dunia yang saling membelakangi itu. Tetapi, "diam-diam" kekuatan performance Sintren itulah yang seolah menyuarakan bahwa pengalaman supranatural dan adikodrati yang dialami Sintren adalah sungguh-sungguh indah dan nyata. Senyata peristiwa
ketika gadis kecil itu dipaksa menari-nari tanpa daya menolaknya. Senyata-senyata kemelaratan yang tak jemu-jemu menimpa keluarganya. Ketakmujuran itu pula yang membuat seorang pelaku Sintren berada pada bayang-bayang keidakberdayaan, karena hanya menunggu uang
Dunia Sintren selain dunia hiburan juga memang dunia gaib, asing dan tak kasatmata,selayaknya dunia pesugihan yang selalu menghendaki tumbal. Tumbal paling mula tentulah sipenari itu sendiri (Sintren). Betapa tidak? Sejak jadi penari Sintren, dengan lapa ng dada harus menerima kenyataan bakal kerasukan setan di setiap penampilan, harus pula pasrah pada "takdir". Sintren yang cantik alang kepalang, tapi pantang disentuh laki-laki sebab dunia Sintren menghendaki keperawanan abadi, tiada seorang laki-laki mana-pun yang boleh menjamah tubuhnya.
Tumbal selanjutnya tentu saja para lelaki yang mabuk kepayang dan tergila-gila ingin mempersunting Sintren. Namun, Sang Sintren sudah kadung menjatuhkan pilihan, tidak bakal sanggup ia melarikan diri dari kurungan gaib itu, mustahil ia berhenti jadi penari sintren. Sang Sintren siap menanggung segala akibat dari pilihannya, siapa melompat siapa jatuh. Sampai di titik ini, realitas yang tidak kasatmata telah menjelma dunia yang sesungguhnya, sementara kesehariannya ia, teman-teman di kampungnya seolah-olah tidak nyata, seakan-akan fiksi belaka.
Laku bertutur tentang nyanyian Sintren memang tidak terlalu mengagumkan, datar, bersahaja,dan tidak pongah mempermainkan bentuk sebagaimana perilaku gadis desa lainnya. Alurnya nyanyian dan tariannya lempeng, gampang ditebak, tidak bervariasi layaknya nyanyian dan tarian masa kini. Tapi, justru dalam kesederhanaan itu keistimewaan seni tradisional inilah yang dapat mengemuka menjadi menarik adanya. Memahami Sintren memang setidaknya memerlukan penghayatan dan kepekaan tingkat tinggi, seperti merindukan kenangan masa kecil di desa yang begitu mengasyikkan dalam kesederhanaan dan keluguan.
Seni Sintren yang dahulu menjadi seni tradisi yang mengakar pada keyakinan terhadap nilai-nilai luhur pada masyarakat pesisir utara di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah (Indramayu, Cirebon, dan Brebes), memiliki keunikan, keindahan, sekaligus keanehan, dan sarat dengan magis. Secara sepintas “keunikan” sebuah seni pertunjukan Sintren itu dapat dilihat dari seperangkat gamelannya yang khas, satu di antaranya peralatan musik yang digunakan terbuat dari tembikar atau “gembyung” dan kipas dari bambu yang ketika ditabuh dengan cara tertentu menimbulkan suara yang khas pula. Bebunyian gamelan ketukan ruas bambu yang disebut “bumbung” atau “lodong” dengan dijatuhkan ke permukaan tanah, mengundang suara yang alamiah namun unik. Sedangkan nyanyian yang mengiringi musik tradisional yang dilantunkan dengan untaian nada yang sederhana bersama-sama, betul-betul memberi nuansa sebagai seni pertunjukan “rakyat biasa” bahkan “rakyat pinggiran” yang unik dan sangat sayang untuk kita lewatkan.
“Keindahan” seni Sintren, terpancar ketika seorang “gadis desa” yang lugu dan sederhana, setelah dimasukkan kurungan dengan kedua tangan yang diikat, tiba-tiba seolah berubah menjadi wanita penari cantik yang masih gadis dan jauh berbeda dengan semula dengan mengenakan kaca mata hitam, layaknya seorang model yang memamerkan kebolehannya. Sedangkan keanehan lain dan bersifat magis, sebuah seni pertunjukan Sintren, terlihat ketika ia dalam kondisi diikat dan dimasukan kurungan kemudian ia berganti pakaian layaknya seorang gadis periang masa kini yang selalu siap menari-nari. Sementara itu semerbaknya bebauan aroma kemenyan yang menyengat mengiringi nyanyian mistik tersebut, menampilkan seni yang kental dengan nuansa dan berdaya magis .
Kekayaan seni tradisi yang mestinya terjaga hingga kini adalah di antara kekayaan bangsa Indonesia yang dapat dibanggakan. Menjaganya tetap ada dan lestari merupakan “kemuliaan” akal manusia dalam rangka menghormat keberadaannya serta menghargai sejarah.Tak terkecuali kesenian Sintren. Sintren, dalam berbagai versi merupakan kesenian yang memadukan antara seni tari dan keterampilan teatrikal yang berpadu dengan akrobatik, bahkan saking terampilnya, kesenian inipun mempengaruhi banyak seniman dan pelaku seni Sintren untuk mengembangkan lebih jauh dengan memasukkan unsur magis di dalamnya.
Sintren dapat dikategorikan sebagai “Local Genius”. Di mana pengertian local genius tersebut secara keseluruhan meliputi dan identik dengan Cultural Identity, yang diartikan sebagai identitas atau kepribadian budaya Indonesia (Soebadio, 1986: 18-19). Adapun ciri dan hakikat local genius itu pada dasarnya, pertama; mampu bertahan terhadap budaya luar, kedua; memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar; ketiga, mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur-unsur budaya luar ke dalam budaya asli; keempat, memiliki kemampuan mengendalikan, dan; kelima, mampu memberikan arah pada perkembangan budaya (Mundardjito, 1986: 40).
Kesenian Sintren yang lahir dan banyak berkembang di daerah pesisir perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah ini, seringkali memukau dan membuat penasaran penonton lantaran keunikannya dengan mempertunjukkan aksi magisnya. Konon, seorang penari Sintren haruslah seorang perawan atau gadis. Hal ini dimaksudkan sebagai kepercayaan media kesucian merasuknya roh bidadari. Di mana dalam penyajian kesenian Sintren didukung oleh semacam pawang penjaga roh bidadari (Kemlandang) dan Lais. Berbagai versi cerita Sintren yang paling banyak diyakini masyarakat pesisir diadopsi dari kisah cinta antara Sulandono dan Sulasih yang tidak direstui oleh orang tua Sulandono dari keluarga Keraton. Namun dengan kesaktian Sulandono, meski sejoli yang kasmaran itu tidak bisa bertemu secara fisik, di alam gaib mereka dapat bertemu melalui wasilah para penari.
Seperti kita ketahui bahwa masing-masing kesenian merupakan sesuatu ekspresi yang khas yang mewakili masyarakat pendukungnya yang menempati suatu daerah atau wilayah tertentu. Namun seiring dengan perkembangan jaman, keberadaan kesenian sejenis ini menunjukkan gejala yang memprihatinkan, yakni semakin menipisnya eksistensi kesenian tradisional di lingkungannya dan semakin berkurangnya seniman yang mendukungnya.
Keberadaan kesenian tradisional Sintren dari hari kehari semakin ditinggalkan oleh masyarakat,bahwa seni tradisi sudah tidak sesuai lagi dengan arus perkembangan zaman, sudah tidak memadai cita rasa modern .
 Alangkah celakanya bila masyarakattidak lagi peduli terhadap perkembangan kesenian tradisionalnya, untuk generasi penerus berikutnya dapat dipastikan tidak mengenal karena jejak-jejaknya sudah tidak ada lagi. Dewasa ini bentuk-bentuk kesenian tradisional Sintren khususnya, sedang atau telah mengalami pergeseran fungsi di masyarakat akibat dari dinamisasi kehidupan yang menuntut adanya perubahan, seiring dengan berubahnya jaman dan pola pikir masyarakat. Perubahan tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran penilaian sehingga pada kenyataannnya di lapangan muncul berberapa pandangan terhadap kesenian tradisional khususnya.
 Sebagian besar masyarakat desa-pun seleranya mulai beralih pada seni yang dianggap ”modern” (seperti Organ Tunggal, Dangdut, Band, Layar Tancap, Sinetron). Upaya pelestarian dan pengembangan seni tradisonal terutama dalam era modernisasi dihadapkan pada tantangan jaman yang semakin kuat.Dalam kenyataannya pembinaan kesenian tradisional dilaksanakan terlambat, sehingga banyak seni tradisi yang ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya.

0 Komentar